• News

  • Peristiwa

Presiden Prancis Hina Islam, Tokoh Papua Minta Pemimpin Dunia Tiru Erdogan

Tokoh Papua, Christ Wamea
Twitter
Tokoh Papua, Christ Wamea

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tokoh Papua Christ Wamea ikut angkat bicara mengenai isu penghinaan agama Islam dan Nabi Muhammad oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron.  

Pada Rabu (21/10/2020) pekan lalu, Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan tidak akan mencegah penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berekspresi.

Pernyataan tersebut langsung memicu kemarahan oleh dunia Arab dan dunia Muslim. Menurut Christ para pemimpin yang masyarakatnya mayoritas muslim sudah sepantasnya marah kepada Presiden Macron. Ia mencontohkan pemimpin Turki Recep Tayyip Erdoganyang begitu berani melawan siapapun yang melecehkan agam Islam. 

"Pemimpin yg cinta agamanya pasti akan tegas jika agama dan nabinya dihina. Presiden turki salah satu pemimpin muslim yg selalu jaga marwah agamanya." tulis Christ di akun Twitternya, Selasa (27/10/2020).

Sebelumnya, Emmanuel Macron telah berjanji untuk memerangi kelompok radikal Islam setelah pemenggalan guru sejarah pada (16/10) lalu. Guru itu dipenggal setelah ia menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya dalam diskusi kelas tentang kebebasan berbicara.

Tetapi komentar Macron menuai protes negara-negara mayoritas Muslim. Macron memicu kontroversi ketika dia mengatakan bahwa Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.

Selama akhir pekan sejumlah negara melakukan aksi mengecam Macron. Di Suriah, foto Presiden Prancis itu dibakar. Begitu juga di Libya, massa membakar bendera Prancis.

Negara-negara Timur Tengah menyerukan boikot produk Prancis, mulai dari Qatar, Kuwait, Yordania. Kondisi serupa juga terjadi di Turki.

Kepala Dewan Kepercayaan Muslim Prancis (CFCM) Mohammed Moussaoui, mendesak Muslim Prancis untuk membela kepentingan bangsa dalam menghadapi protes internasional.

"Kami tahu bahwa para penggagas kampanye ini mengatakan mereka membela Islam dan Muslim Prancis, kami mendesak mereka untuk bersikap masuk akal. Semua kampanye kotor melawan Prancis kontraproduktif dan menciptakan perpecahan," katanya.

Mengenai kartun Nabi Muhammad, yang dipandang ofensif oleh banyak Muslim, Moussaoui mengatakan hukum Prancis memberi orang "hak untuk membenci" kartun itu.

Namun dia mengaku mendukung sikap Macron yang bersumpah bahwa Prancis tidak akan pernah melepaskan kartun atau hak untuk mengejek agama.

Perwakilan CFCM akan bertemu Macron di Istana Elysee Senin malam waktu setempat.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Sesmawati