• News

  • Singkap Sejarah

Saat Ningrat Sunda Mangkat, Gubernur Jenderal Ikut Berduka

Ilustrai kaum Menak Priangan tempo dulu
Foto: Istimewa
Ilustrai kaum Menak Priangan tempo dulu

BANDUNG,NETRALNEWS.COM – Setiap pemimpin masyarakat meninggal, dipastikan akan diiringi upacara pemakaman yang tak sederhana. Untuk bangsawan di Tatar Sunda abad ke-19 hingga ke-20, bagaimana pemakaman dilangsungkan?

Di masa ini, sejumlah kaum bangsawan Sunda memiliki relasi yang relatif "mesra" dengan pemerintah Kolonial Belanda. Artinya, kematian mereka tentu juga menjadi kedukaan bagi pemerintah Belanda.

Kisah pemakaman kaum ningrat di Priangan di abad itu, salah satunya pernah ditulis DR. Nina H. Lubis dalam Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942 (2020: 249-250). Kaum bangsawan Sunda tempo dulu biasa disebut kaum ménak.  

Menurut catatan Nina, ménak merupakan salah satu kosa kata yang sangat populer bagi masyarakat Sunda, untuk menunjukkan satu lapisan masyarakat yang berdasarkan hukum (saat itu) memiliki berbagai hak yang istimewa.

Di kalangan masyarakat luas kata ménak kemudian "dikirata-basakan" sebagai dimémén- mémén diénak-énak. Artinya, kaum ménak adalah mereka yang harus diladeni segala keperluannya (oleh orang lain) sehingga hidupnya menjadi enak.

Sementara masyarakat kebanyakan, biasa disebut somah atau cacah. Mirip dengan budaya Jawa, kaum somah wajib berperilaku yang baik kepada ménak termasuk dalam bertutur kata (bahasa halus). Sementara pihak ménak kepada somah justru wajib berbahasa kasar.

Kisah kematian dan bagaimana pemakaman kaum menak tergambar dalam peristiwa wafatnya Pangeran Sugih, bupati Sumedang yang berkuasa antara tahun 1836 sampai dengan 1882.  Ia meninggal setelah sebelumnya menderita sakit yang cukup lama.

Hari itu, beduk dan lonceng dibunyikan begitu tersiar kabar bahwa bupati itu wafat. Para pejabat, baik pribumi maupun Belanda berdatangan melayat.

Ribuan rakyat dari berbagai pelosok kabupaten ikut berkumpul di alun-alun dan mengantarkan kepergian tuannya ke makam.

Sesuai dengan adat Sunda, apabila ada yang meninggal, maka selama tujuh malam akan diadakan pengajian (tahlil).

Sementara sedekah diadakan pada hari ketiga (disebut tiluna), hari ketujuh (disebut tujuhna), hari keempat puluh (disebut matang puluh), hari keseratus (na- tus), ulang tahun kesatu (mendak taun), dan hari keseribu (néwu).

Sedekah besar-besaran biasanya diberikan pada hari ketujuh dan keempat puluh.

Kaum ménak biasanya memiliki kompleks pemakaman khusus untuk keluarga. Misalnya, kaum ménak Bandung memiliki kompleks makam di Karanganyar, Dalem Kaum, dan Dayeuh Kolot, Bandung.

Untuk Ménak Sumedang, kompleks makam berada di Gunung Puyuh, Dayeuh Luhur, dan Gunung Ciung.
Sedangkan Ménak Cianjur memiliki kompleks makam di Pasarean Agung, Pamoyanan, Pasir Hayam Babakan Jati, Cibeber, Sarampad, dan di Cibalagung.

Lalu, Ménak Sukapura memiliki kompleks makam di Pamijahan, Gunung Tanjungmalaya, Cipeujeuh, Baganjing, Manonjaya, dan lain-lain.

Bentuk makam dan jenis bahan makam kaum ménak mudah dibedakan dari makam rakyat biasa. Makam biasanya dibuat megah, terutama makam para bupati. Makam bupati biasanya berdampingan  dengan  makam  garwa  padmi.  

Di  atas  makam kadang-kadang dibuat atap dan sekelilingnya diberi pagar besi. Beberapa makam bupati ada yang dikeramatkan orang sehingga sekeliling makam dibenahi untuk tempat menginap orang-orang yang mencari berkah dari makam. Hal ini bisa dilihat misalnya di Sumedang.

Selain Pangeran Sugih, tercatat juga upacara pemakaman yang begitu hebat saat Pangeran Suria Atmaja (Bupati Sumedang periode 1883-1919) wafat, tepatnya pada tanggal 1 Juni 1921 di Mekah waktu menunaikan ibadah haji.

Bupati ini dianggap amat berjasa, bukan saja di kalangan rakyat biasa, melainkan juga di mata Pemerintah Hindia Belanda.

Pada tanggal 1 April 1922 didirikan lingga (monumen) untuk menghormati bupati tersebut. Pada waktu upacara peresmian lingga hadir Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Residen Priangan, para asisten residen, serta para pejabat Belanda lainnya, di samping para bupati Priangan.

Ikut hadir dalam upacara ini, kaum ménak Sumedang di bawah bupati beserta kerabatnya.

Tepat pukul sepuluh pagi meriam dan beduk dibunyikan bersama-sama menyambut kedatangan Gubernur Jenderal D. Fock, diiringkan Residen Priangan Eijken dan istri, Ajudan Gubernur Jenderal Cranwinckel, dan Algemene Secretaris Welter.

Para pejabat yang hadir kemudian menyalami para tamu agung ini. Setelah itu mereka menuju alun-alun untuk meresmikan lingga tersebut dengan diiringi lagu kebangsaan Belanda, Wilhelmus, yang dinyanyikan oleh murid-murid HIS.

Setelah tirai penutup lingga dibuka oleh Gubernur Jenderal, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Yang pertama dari Gubernur Jenderal, kemudian Bupati Sumedang yang baru, dan terakhir dari Residen Priangan.  Acara diakhiri dengan lagu kebangsaan Belanda sekali lagi dan resepsi di kabupaten.

Editor : Taat Ujianto