• News

  • Singkap Sejarah

Ketegangan Peranakan Arab Menjawab Apakah Cinta Indonesia

Kongres Partai Arab Indonesia di Cirebon, 1938.
Foto: Historia.id
Kongres Partai Arab Indonesia di Cirebon, 1938.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Anda ingin menyaksikan jejak bagaimana orang-orang Arab menjadi warga Indonesia? Lorong-lorong di kawasan Pekojan, Jakarta Barat, adalah salah satu jawabannya.

Saksi bisu dari perjalanan orang Arab di Indonesia tersimpan pula di masjid tua Langgar Tinggi dan masjid Al-Nawier. Di sekitar masjid inilah selama ratusan tahun lalu berdiri kampung Arab.

Mereka kebanyakan datang sebagai pedagang kemudian melakukan dakwah. Mereka merupakan orang-orang Arab yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Mereka kawin-mawin dengan perempuan dari Nusantara dan lahirlah keturunan yang tak sedikit jumlahnya.

Kini, bila warga daerah ini ditanya, tentu saja mereka akan menjawab sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang juga mencintai Tanah Air Indonesia. Ini menjadi bukti bahwa walaupun nenek moyang mereka berasal dari Arab, namun kini telah memiliki ikatan kuat dengan bangsa Indonesia.

Menelusuri bagaimana warga keturunan Arab/Yaman melebur dan menjadi satu dengan bangsa Indonesia lainnya, ada satu peristiwa penting yang tak bisa diabaikan, yakni Sumpah Pemuda Keturunan Arab yang berlangsung pada 4 Oktober 1934 di Semarang.

Peristiwa lima tahun setelah Sumpah Pemuda 1928 itu terjadi ketika sejumlah kaum muda keturunan Arab mendukung gagasan tanah air Indonesia dan memutuskan tidak lagi mengaitkan dirinya dengan asal-usul dari Hadramaut, Yaman.

Tokoh penting peristiwa tersebut di antaranya adalah Abdul Rahman (AR) Baswedan. Sebagai salah satu peranakan Arab di Hindia Belanda, AR Baswedan telah sampai pada kesimpulan tentang identitas dirinya sehingga berani bersumpah bertanah air Indonesia.

Besar kemungkinan, apa yang dilakukan AR Baswedan memang dipengaruhi oleh peristiwa Sumpah Pemuda di Jakarta. Pertanyaan tentang siapa jatidiri kelompok pemuda di Nusantara bergema dan dijawab oleh AR Baswedan dan kawan-kawannya.

Mengutip buku AR Baswedan berjudul Membangun Bangsa, Merajut Keindonesiaan (2014), pokok pikiran peristiwa Sumpah Pemuda Keturunan Arab setidaknya terdiri dari tiga pernyataan, yakni:

Pertama, Tanah air peranakan Arab adalah Indonesia; Kedua, peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri); Ketiga, Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.

Lalu bagaimana gambaran Sumpah Pemuda Keturunan Arab itu berlangsung? Mengenai hal ini, catatan Hendri F Isnaeni berjudul “Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab” yang dinukil Historia.id cukup singkat dan jelas untuk kita simak.

Rapat pemuda keturunan Arab yang berlangsung di rumah Said Bahelul di Kampung Melayu, Semarang, ternyata sempat diwarnai ketegangan. Pasalnya, saat itu diwarnai konflik yang dipicu strata sosial antara sayid dan non-sayid.

Sayid, atau disebut juga alawi, adalah istilah yang digunakan untuk menyebut keturunan Nabi Muhammad dan karenanya membuat mereka merasa istimewa.

Di sinilah kehadiran sosok AR Baswedan menjadi sangat penting. Ia tampil dan mampu mencairkan suasana dengan mengajukan jalan tengah.

“Solusi sederhananya panggil semua Arab dengan ‘saudara’ atau al-akh. Tidak peduli alawi atau non-alawi you are my brother,” ujar Samhari Baswedan, anak kesebelas AR Baswedan. Kompromi tersebut mendapat sambutan baik.

Rapat pemuda yang melahirkan Sumpah Peranakan Arab tersebut dimulai pada 3 Oktober 1934 dan dihadiri oleh sekitar 40 orang Arab peranakan dari Arrabitah, organisasi pro sayid, dan Al-Irsyad, organisasi non-sayid. Mereka berasal dari Surabaya, Semarang, Pekalongan, dan Jakarta.

Suasana tegang masih terus terjadi pada rapat hari kedua. Bahkan sempat muncul hasutan dan provokasi, sampai-sampai ada peserta yang membawa pistol.

Menurut Suratmin dalam AR Baswedan Karya dan Pengabdiannya (1989), debat sengit kembali terjadi ketika AR Baswedan menguraikan masalah tanah air Arab peranakan. AR  Baswedan mengusulkan tanah air tersebut adalah Indonesia. Namun, perdebatan berhasil melahirkan kesepakatan.

Peranakan Arab yang berkumpul di tempat itu sepakat bertanah air Indonesia. Mereka juga sepakat menamai 4 Oktober sebagai Hari Kesadaran Arab-Indonesia.

Di hari ketiga, rapat juga memutuskan membentuk organisasi Persatuan Arab Indonesia (PAI), dengan AR Baswedan terpilih sebagai ketua.

Tujuan pendirian PAI adalah untuk menyatukan seluruh Arab peranakan (muwallad) dengan keanggotaan terbuka bagi setiap Arab yang lahir di Indonesia. Sedangkan Arab totok (wulaiti) boleh diterima sebagai anggota luar biasa, penyokong atau donatur dengan tidak mendapat hak suara.

“Keempatpuluh partisipan menyetujui dengan bulat bahwa dasar organisasi ini adalah pengakuan bahwa Indonesia merupakan tanah air mereka, bukan Hadramaut,” tulis Natalie Mobini Kesheh dalam Hadrami Awakening, Kebangkitan Hadhrami di Indonesia (2007).

Editor : Taat Ujianto