• News

  • Sisi Lain

Derita Dinda, Setiap Malam Jumat Lihat Penampakan, Karunia atau Kutukan?

Ilustrasi penampakan-penampakan gaib
Foto: Istimewa
Ilustrasi penampakan-penampakan gaib

BOGOR, NETRALNEWS.COM – Setiap manusia lahir ke dunia tak pernah ditanya dan memilih akan menjadi seperti siapa dan lahir dari keluarga mana. Semua ditentukan oleh Yang Kuasa.

“Kalau sebelum lahir, saya ditanya sama Gusti, Tuhan Yang Maha Esa, ya mungkin saya milih jadi orang yang normal-normal saja, Mas,” kata sosok perempuan muda yang minta ditulis dengan nama Dinda (36).

Ia adalah seorang perempuan berdarah peranakan Tionghoa yang tinggal di wilayah Tajurhalang, Kabupaten Bogor.

Meski sudah lumayan berumur, Dinda hingga kini masih lajang dan belum memutuskan untuk menikah. Ada banyak pertimbangan, sehingga ia memilih tetap melajang.

“Hehehe, sudah berulang pria mendekati sih. Cuman, ndaklah, ada banyak risiko tak mudah menjadi suami dari perempuan seperti saya. Soal ini, jangan ditanya-tanya mendalam deh, Mas,” kata Dinda dengan senyum simpul kepada Netralnews, Kamis (19/11/20).

Dinda merupakan anak sewata wayang dari seorang keluarga peranakan Tionghoa yang dahulu hidup menjadi petani buah mulai dari belimbing, jambu merah, hingga sayur-sayuran.

Ia tak tahu pasti kapan leluhurnya mulai tinggal di salah satu sudut Bogor, Jawa Barat. Menurut cerita orangtuanya, leluhur mereka datang di era Batavia masih dikuasai VOC. Mereka kemudian sempat mengolah tanah tanah perkebunan milik kolonial Belanda.

“Bapak ibu sudah meninggal delapan tahun lalu. Bapak meninggal duluan karena sakit tua, lalu ibuku. Sekarang saya ya sendirian, tinggal di  rumah warisan bapak ibuku ini,” kata Dinda.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Dinda kini memiliki usaha jualan online dengan beragam produk mulai dari makanan hingga barang kerajinan dari warga Peranakan Tionghoa di sekitar tempat tinggalnya.

Di hari-hari biasa, ia mengaku terhibur dengan banyak kesibukan jualan dan interaksi dengan saudara serta tetangganya. Namun, ada hari yang selalu membuat berat baginya yakni setiap Kamis sore hingga hari Jumat tengah malam.

Sepanjang sekitar 30 jam, Dinda selalu merasa tersiksa. Apa yang dialaminya sudah berlangsung sejak kecil. Bahkan pernah ia dianggap menjadi anak aneh dan ditakuti orang.

“Kamis sore, mulai pukul 18.00 biasanya mulai kambuh. Lalu berakhir hingga Jumat tengah malam pukul 00.00. Itu ritme waktu yang sudah saya  tandai sebagai masa saya harus mengurung diri. Saya biasanya isi hanya dengan berdoa, membaca Kitab Suci, dan berdiam di rumah,” tuturnya.

Pola hidup sepanjang hari itu akhirnya harus dijalani oleh Dinda, bukan tanpa sebab. Pola itu juga ia buat setelah melewati masa-masa berat sepanjang ia lahir ke dunia.

“Mas bisa bayangkan sendiri, gini ceritanya. Sejak kecil, saya mengalami fenomena aneh setiap  Kamis sore hingga Jumat tiba. Mulanya bapak ibuku pun dibuat pusing tujuh keliling. Dulu saya dianggap sakit, kena guna-guna, dan sebagainya. Dari dokter sampai dukun sudah didatangi untuk menyembuhkan saya, tapi ya tak sembuh,” tutur Dinda.

Ada banyak kejadian yang pernah dialami Dinda setiap melewati hari Kamis sore dan Jumat.

“Yang saya rasakan, setiap hari itu tiba, mata dan perasaan saya menjadi sensitif, peka, melihat penampakan-penampakan tak kasat mata, hingga merasakan sakit bila ada di sekitar saya mengalami sakit. Begitu sederhananya,” imbuh Dinda.

“Sejak balita hingga anak-anak, sepanjang Kamis hingga Jumat, tak pernah bisa tidur dan saya pasti menangis tiada henti, kadang kejang, dan membuat bapak ibuku selalu dilanda kepanikan. Waktu saya kecil mau jelaskan bagaimana? Yang saya rasakan saya tersiksa, itu saja. Makanya saya nangis,” kata Dinda.

“Sekitar kelas tiga SMP, baru saya mulai bisa menata diri dan mengkomunikasikan ke bapak ibu tentang yang saya rasakan dan lihat,” lanjut Dinda.

Menurut pengakuannya, sepanjang waktu itu Dinda sudah melihat banyak sekali penampakan kehidupan makhluk-makhluk tak kasat mata. Mulai dari sosok menyerupai bayi, perempuan berambut panjang. Sosok hitam besar, hingga seperti anak-anak bermain menggodanya.

“Wah tak terhitung dan tak selesai diceritakan satu hari, Mas. Tapi kalau disingkat, ya melihat penampakan-penampakah makhluk astral gitu, ya. Jadi, misalnya orang hanya melihat sandal di luar rumah bergerak atau seperti jalan. Nah, saya melihat sosok makhluk yang memakainya. Orang pada umumnya ya hanya lihat sandal bergerak. Itu contoh sederhanya,” terang Dinda.

“Nah saat kecil kemudian membuat saya menangis dan tersiksa. Misalnya saat pergi bersama ibu di hari hari Jumat, di jalan tiba-tiba lihat penampakan-penampakan makhluk halus yang menyeramkan. Ya saya histeris, teriak. Mulanya saya sering dianggap kesurupan. Bikin panik pokoknya,” kata Dinda.

Bahkan, Dinda mengaku pernah melihat kumpulan sosok-sosok  seperti anak balita dengan wajah yang menyeramkan. Kejadian itu terjadi di gedung sekolah di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

“Di gedung tua, saat ini masih jadi sekolah, kok. Tapi jangan disebut namanya ye. Kala itu liburan sekolah, diajak Ibuku bermalam di rumah saudara. Kamis sore main di halaman sekolah tersebut. Habis Azan Magrib, saya merasa dikerumuni bayi-bayi yang merangkak cepat. Mereka keluar di gedung sekolah itu lalu menggoda saya seolah mengajak bermain. Sementara ibuku tak melihat apapun. Saya ketakutan dan teriak-teriak menggegerkan orang. Itu kejadian saya masih kelas 3 SD,” kenang Dinda.

Usut-punya usut, Dinda meyakini apa yang ia lihat ada hubungannya dengan kasus-kasus aborsi yang hingga kini masih terus terjadi area Jalan Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat.

“Dugaan saya begitu. Mereka korban aborsi masih hidup dalam dimensi berbeda dengan kita. Percaya atau tidak, terserah, tapi itulah yang pernah saya lihat dan rasakan. Perlu dipahami juga, saat saya melihat penampakan sosok-sosok bayi menyeramkan itu, saya merasakan sekujur badan saya sakit terasa seperti diiris-iris,” tutur Dinda.

“Penampakan lain yang pernah saya lihat ya banyak sekali. Orang mungkin menyebutnya kuntilanak, genderuwo, dan sebagainya. Iya, mata saya melihatnya,” imbuh Dinda.

Setelah memasuki usia dewasa, Dinda akhirnya semakin mengenali dirinya sendiri dan mampu mengelola “kelainan” yang ia miliki. Sayangnya, ia memilih tidak menggunakan semua keanehan itu untuk diekplorasi sehingga bisa mendatangkan uang layaknya artis misteri atau pun paranormal.

“Ini pilihan hidup ya, Mas. Entah ini merupakan kutukan atau karunia dari Tuhan, tapi saya memutuskan untuk tidak digunakan sebagai alat mencari rezeki. Ibuku melarang. Dan saya juga memilih untuk tetap menyimpan rapat-rapat, tak perlu diumbar,” kata Dinda yang hingga hari ini pun masih selalu melihat beragam penampakan biarpun di rumahnya sendiri.

Dinda tak mau difoto. Ia juga tak mau membuat video-video seputar pengalaman hidupnya. Ia memilih aktif hidup bersama komunitas Gereja Kristen di dekat tempat tinggalnya.

“Iya, saya memilih berkegiatan di Gereja. Kalau Kamis sore tiba, saya banyak jalani dengan berdoa, baca Kitab Suci, dan seterusnya. Biasanya, Jumat tengah malam baru saya bisa tertidur lelah,” kata Dinda.

Entah sampai kapan pilihan cara hidup dalam menghadapi fakta dan fenomena aneh yang dimilikinya akan terus dia jalani. Yang pasti, Dinda menyatakan dengan tegas, “Hidup ini kesempatan. Hidup ini untuk melayani Tuhan,” tegas Dinda.

Editor : Taat Ujianto