Netral English Netral Mandarin
18:08wib
Polisi menduga kelompok kriminal bersenjata (KKB) membakar sejumlah fasilitas umum di wilayah Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, lantaran sempat dijadikan sebagai Posko Komando Taktis alias Pos Kotis. Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian permohonan uji materi Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK.
Jokowi, dan Adi MS

Senin, 21-Juni-2021 13:00

Desa Wisata di Lombok.
Foto : Kemenparekraf
Desa Wisata di Lombok.
3

LOMBOK, NETRALNEWS.COM - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), mengajak Indonesia Inboud Tour Operator Association (IINTOA) untuk mengembangkan potensi desa wisata.

Deputi Bidang Sumber Daya Kelembagaan Kemenparekraf, Wisnu Bawa Tarunajaya, menjelaskan desa wisata merupakan bagian dari pengembangan pariwisata berkelanjutan dan menjadi salah satu program Pemerintah Republik Indonesia yang diharapkan dapat mempercepat kebangkitan pariwisata dan memicu pertumbuhan ekonomi.

Oleh karenanya Wisnu mendorong pelaku industri khususnya IINTOA untuk membantu mengembangkan potensi desa wisata, agar dapat menggairahkan pariwisata di tengah pandemi COVID-19.

"Kami punya program pendampingan desa wisata, kami sangat butuh anggota IINTOA sekalian untuk bersama-sama bagaimana kita memberikan kesempatan teman-teman pariwisata untuk mempromosikan produknya lewat platforam yang IINTOA miliki. Jadi inilah pentingnya kita berkolaborasi. Jadi, kami mohon bantuan IINTOA bersama pelaku industri lainnya untuk bersama-sama sinergi menggunakan platform bersama silakan saja. Bapak ibu yang paling tahu langkah efektif untuk mempromosikan desa wisata ini," kata Wisnu, dalam siaran persnya, Rabu, (5/5/2021).

Lebih lanjut, Wisnu menjelaskan bahwa pariwisata alternatif saat ini menjadi tren bagi para wisatawan. Pariwisata alternatif merupakan konsep wisata yang lebih bersahabat dengan alam dan masyarakat lokal, yang tak bisa didapat ketika berkunjung ke destinasi wisata biasa. Karena itu, Kemenparekraf terus menggali potensi desa wisata.

"Jadi, kita bagaimana menjadikan desa wisata ini sebagai alternatif destinasi pariwisata, karena kondisi sekarang ini sangat tepat sekali memilih desa wisata jadi sebuah destinasi pariwisata yang kelebihannya adalah memiliki produk alam dan kebudayaan tersebut," kata Wisnu.

Wisnu meminta IINTOA untuk membantu membuat analisis _customer behavior_ yang bertujuan agar dapat mengetahui apa saja yang diperlukan oleh wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara jika berkunjung ke desa wisata.

"Analisis ini penting sekali untuk tahu apa yang dimau oleh wisatawan lokal dan mancanegara. Nah, ketika sudah siap analisisnya kita akan turun ke lapangan sebagai program pendampingan itu, diperkirakan pada Mei atau akhir Juni. Nanti kita pilihkan berapa tempat desa wisata kita kumpulkan pengelolanya. Bapak dan ibu perwakilan dari IINTOA dan Panorama kami berharap juga memberikan pemahaman untuk mereka agar menyiapkan produknya," ujarnya.

Sementara itu, Ricky Setiawanto, Sekjen Asosiasi Operator Pariwisata IINTOA, menjelaskan bahwa pihaknya siap mendukung Kemenparekraf untuk mengembangkan desa wisata dari segi pemasarannya.

"Kami dari IINTOA akan membantu dari segi pemasarannya, karena kini sudah banyak desa wisata tapi juga banyak yang belum mengetahui cara pemasarannya," ujarnya.  

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Sulha Handayani