Netral English Netral Mandarin
banner paskah
07:58wib
Polisi menduga kelompok kriminal bersenjata (KKB) membakar sejumlah fasilitas umum di wilayah Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, lantaran sempat dijadikan sebagai Posko Komando Taktis alias Pos Kotis. Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian permohonan uji materi Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK.
Kenang Anggota Kopassus Bantai 4 Preman di Penjara, DS: Dia Sakit Hati, Rekannya Dibunuh dengan Barbar

Minggu, 18-April-2021 08:47

Ilustrasi catatan Denny Siregar berjudul JIWA KORSA SERDA UCOK
Foto : FB/Denny Siregar
Ilustrasi catatan Denny Siregar berjudul JIWA KORSA SERDA UCOK
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar mengenang tragedi pembunuhan satu anggota Kopassus di Yogyakarta tahun 2013 yang kemudian disusul pembantaian 4 preman yang diduga pelaku pembunuhan anggota Kopassus saat berada di penjara. 

Seorang anggota Kopassus yang membalas dendam karena rekannya dibunuh secara barbar menyusup ke penjara dan membantai 4 preman dengan berondongan senjata.

“Yang menembak itu bernama Ucok Tigor Simbolon. Waktu itu berpangkat Serda. Dia merasa sakit hati ketika rekannya dibunuh para preman itu dengan barbar. Jiwa korsanya bangkit. Dia mengajak teman2 angkatannya menyerbu lapas Cebongan. Ucok lah yang menjadi eksekutornya..,” kata Denny siregar melalui akun FB-nya, Sabtu malam (17/4/21).

“Peristiwa itu membuat pro kontra di masyarakat tahun 2013. Saya, meski tidak setuju tindakan main hakim sendiri, tapi pada saat itu hati kecil saya membela Ucok. Begitu juga banyak masyarakat lainnya.” lanjutnya.

“Ucok, meskipun divonis bersalah oleh majelis hakim, dia menjadi pahlawan buat rekan2 seangkatannya di Kopassus. Namanya harum di kesatuannya. Kecintaannya pada Kopassus dinyatakan dalam statemennya di depan hakim..,” imbuh Denny.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

JIWA KORSA SERDA UCOK

Malam itu 12 orang mengendap2 di sebuah lapas di Jogyakarta. Badan mereka tegap2. Sipir penjara kaget ketika tiba2 ditodong sebuah senjata. 

"Dimana Dicki ?" Tanya seseorang. Sipir ketakutan dan membawa orang itu ke sebuah sel. Dia menunjuk seseorang di dalam sel.

"Kamu yang namanya Dicki ?" Tanya orang itu. Yang bernama Dicki terduduk ketakutan. Dicki ambon ini berbadan besar dan dia preman sadis yg ditakuti di Jogja. Tapi kali ini nyalinya ciut seciut2nya.

Teman2 satu sel Dicki menyingkir. Orang yang bertanya itu kemudian mengacungkan senjata. 

Bam ! Bam ! Beberapa tembakan menghajar badan Dicki. Peluru lain menghajar teman2 Dicki yang ikut di penjara. Total 4 orang preman yang masuk penjara karena membunuh seorang anggota Kopassus di sebuah cafe di Jogja, terbantai malam itu.

Yang menembak itu bernama Ucok Tigor Simbolon. Waktu itu berpangkat Serda. Dia merasa sakit hati ketika rekannya dibunuh para preman itu dengan barbar. Jiwa korsanya bangkit. Dia mengajak teman2 angkatannya menyerbu lapas Cebongan. Ucok lah yang menjadi eksekutornya..

Peristiwa itu membuat pro kontra di masyarakat tahun 2013. Saya, meski tidak setuju tindakan main hakim sendiri, tapi pada saat itu hati kecil saya membela Ucok. Begitu juga banyak masyarakat lainnya. 

Ucok, meskipun divonis bersalah oleh majelis hakim, dia menjadi pahlawan buat rekan2 seangkatannya di Kopassus. Namanya harum di kesatuannya. Kecintaannya pada Kopassus dinyatakan dalam statemennya di depan hakim..

"Saya minta majelis hakim tetap memberi kesempatan dan tidak memecat saya dari prajurit, karena menjadi prajurit bagi saya adalah sebuah kehormatan.." kata Ucok dengan nada bergetar..

Salam hormat, Ucok. Salam hormat prajurit.

Selamat ulang tahun, Kopassus.

Salam secangkir kopi..

Denny Siregar

Viral di tahun 2013

Dinukil Merdeka.com, tragedi penyerbuan Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta yang menewaskan empat tahanan dan melukai lima orang petugas lapas menyisakan banyak tanya. Lapas itu diserbu 17 orang menggunakan cadar. Dengan membabi buta, belasan orang itu menghabisi empat tahanan menggunakan senjata laras panjang.

Keempat tawanan yang tewas adalah Hendrik Angel Sahetapy alias Deki, Adrianus Candra Galaja atau Dedi, Yohanis Juan Manbait, dan Gameliel Yermiyanto. Juan adalah desertir polisi. Keempatnya merupakan warga Nusa Tenggara Timur yang tinggal di Asrama NTT Yogyakarta.

Dedi, salah seorang tahanan merupakan petugas keamanan Hugo's Cafe yang bekerja sebagai satpam di kafe tersebut. Dedi bekerja sebagai satpam untuk membiayai kuliahnya di Sekolah Tinggi Penerbangan Adisutjipto, Yogyakarta.

Ada dugaan, motif penyerbuan karena balas dendam. Sebab, sebelumnya seorang anggota TNI-AD Sertu Heru Santoso (31) tewas dikeroyok hingga tewas di Hugo's Cafe pada Selasa (19/3) lalu. Pelakunya adalah keempat tahanan yang tewas ditembak di Lapas Sleman tersebut.

Dari informasi yang dihimpun merdeka.com, Selasa (26/3), pengeroyokan terhadap Santoso terjadi sekitar pukul 02.44 WIB di tempat hiburan Hugo's Cafe, Jalan Solo Km 7 tepatnya di Jalan Adisucipto, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Perkelahian antar kelompok itu terjadi di halaman Hugo's Cafe. Keributan kemudian berlanjut di dalam kafe yang cukup ternama di Kota Yogyakarta itu. Beberapa pengunjung serta pegawai kafe sempat berupaya melerai perkelahian.

Santoso yang dikeroyok kalah. Santoso yang pernah bertugas di Grup II Kopassus Menjangan, Kartosuro, Sukoharjo ini ditikam dengan pecahan botol di bagian dadanya. Santoso kemudian dilarikan ke RS. Bethesda Yogyakarta, namun nyawanya tak tertolong.

Versi lain mengatakan, Sertu Heru Santoso tewas setelah ditusuk menggunakan sebilah belati oleh Juan. Dia ini merupakan desertir Polresta Yogyakarta karena tersangkut kasus narkoba. Usai kejadian, polisi berhasil membekuk empat tersangka pembunuhan Santoso.

"Kami sudah menahan empat tersangka, masing-masing D, Dd, Al dan Yj. Salah seorang tersangka, Yj, adalah pecatan polisi dalam kasus penyalahgunaan narkoba. Yj pernah bertugas di Polresta Yogya," ungkap Direktur Reskrimum Polda DIY, Kombes Pol Kris Erlangga Aji Widjaja di Mapolda DIY beberapa waktu lalu.

Deki diringkus di lokasi kejadian, sedangkan Juan ditangkap di Lempuyangan. Dd dan Al, masing-masing dibekuk di Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Sleman dan Mergangsan, Yogyakarta.

Kris Erlangga menjelaskan, saat kejadian bentrok di Hugo's Cafe dari empat tersangka, tiga tersangka dipastikan dalam kondisi normal. Sedangkan satu tersangka lainnya mengaku baru saja mengonsumsi minuman beralkohol. Kendati polisi sudah menahan tersangka, motif dan latar belakang kejadian belum bisa disimpulkan.

"Motifnya masih kami dalami. Kami kan baru saja menangkap mereka, jadi belum sempat menanyakan banyak hal," ujarnya waktu itu.

Kris mengaku, pihaknya sudah bertemu dengan jajaran Kodim 0732/Sleman dan Korem 072/Pamungkas Yogyakarta untuk mengawal kasus ini. TNI siap membantu apabila ada saksi yang bisa dijadikan bahan penyelidikan maupun penyidikan.

"Pihak TNI menyatakan siap mem-back up penuntasan kasus ini. Hasil awal penyidikan, antara pelaku dan korban belum saling mengenal, sedangkan barang bukti ada pisau dan pecahan botol. Pelakunya ada empat orang, tiga warga sipil dan satu mantan polisi yang dipecat karena terlibat kasus narkoba," terang Kris.

Polda DIY yang berlokasi di Jl Ringroad Utara, usai kejadian keributan sempat didatangi pejabat TNI, antara lain, Dandim Sleman Letkol Satriyo Pinandaojo dan Dandim Kota Yogya Letkol Ananta Wira. Pertemuan tertutup dilakukan di ruang Direskrimum Polda DIY. Usai bertemu, mereka tidak banyak memberikan keterangan kepada media dan menyerahkan kasus ini ke Polda Yogyakarta.

Kapolda Yogyakarta, Brigjen Pol Sabar Rahardjo menyayangkan terjadi lagi pembunuhan di tempat hiburan. Sebelumnya, akhir Desember 2012, terjadi pembunuhan Aditya Bisma, mahasiswa asal Bali. Mantan Wakapolda Jateng itu menegaskan ada kemungkinan keamanan di kafe tersebut minim. Setelah peristiwa pengeroyokan ini, izin Hugo's Cafe dicabut.

Pihak Hugo's Cafe membantah keamanan di kafe sangat minim. Menurut Chikon Eko Prasetyo, Marketing Manager Hugo's Cafe, sejak peristiwa pembunuhan pada akhir 2012, pihaknya sudah meningkatkan keamanan dengan menambah sepuluh personel.

Tahanan dipindah

Inilah yang menjadi pertanyaan besar. Setelah empat tersangka pengeroyokan ditahan di Mapolda DIY, tiba-tiba keempat tersangka dipindahkan ke Lapas Cebongan, Sleman. Alasannya, kondisi ruang tahanan di Mapolda DIY masih dalam proses perbaikan.

Padahal menurut kuasa hukum empat tersangka, Rio Ramabaskara, kondisi ruang tahanan di Mapolda DIY dalam kondisi baik dan layak untuk dihuni tahanan. "Alasan pemindahan tahanan tidak tepat. Apalagi kondisi tahanan di Polda DIY masih bagus. Apalagi kejadian selang lima jam kami bertemu dengan pihak polda. Ada indikasi kuat polisi melakukan pembiaran," tegas Rio.

Setelah dipindah, selang beberapa jam terjadilah penyerbuan Lapas Cebongan, Sleman yang mengakibatkan empat tersangka tahanan titipan itu tewas diberondong. Sebanyak 31 selongsong peluru ditemukan di lokasi.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto