Netral English Netral Mandarin
banner paskah
08:08wib
Polisi menduga kelompok kriminal bersenjata (KKB) membakar sejumlah fasilitas umum di wilayah Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, lantaran sempat dijadikan sebagai Posko Komando Taktis alias Pos Kotis. Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian permohonan uji materi Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK.
MUI Sayangkan Ceramah Tengku Zul Soal Warna Kulit, Muannas Singgung 'Manusia Kardus' Yahya Waloni

Jumat, 16-April-2021 07:50

Ketua Umum Cyber Indonesia, Muannas Alaidid 
Foto : Istimewa
Ketua Umum Cyber Indonesia, Muannas Alaidid 
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Umum Cyber Indonesia, Muannas Alaidid mengomentari pernyataan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pendidikan dan Kaderisasi KH Abdullah Jaidi yang menyayangkan isi ceramah Tengku Zulkarnain soal 'orang hitam tak bisa masuk surga'.

Menurut Muannas, seharusnya sejak dulu MUI bersikap tegas terhadap Tengku Zul dan penceramah kontroversial lainnya seperti Yahya Waloni, agar umat terhindarkan dari orang-orang yang tidak kompeten dalam ilmu agama.

"Sedari dulu mestinya MUI tegas, sikap seperti inilah yang diharapkan demi menghindarkan umat dari orang yang tidak kompeten dalam ilmu agama termasuk model ‘manusia kardus’ yahya waloni," tulis Muannas di akun Twitternya, seperti dilihat netralnews.com, Jumat (16/4/2021).

Sebelumnya, viral di media sosial potongan video ceramah Tengku Zulkarnain yang menyebut 'orang hitam tak boleh masuk surga'.

Dalam video itu, Tengku menyebut bahwa ketika orang hitam hendak masuk surga, maka akan dimandikan lebih dulu di sungai kehidupan untuk mengganti kulit.

"Dimasukkan dulu ke surga perempuan, dimandikan ke sungai, di surga namanya nahrul hayat, sungai kehidupan, diganti kulitnya. Orang hitam tak boleh masuk surga, jelek surga kalau ada orang hitam. Aku gak selera kalau di surga ada orang hitam," ucap Tengku.

Selain yang berkulit hitam, Tengku mengatakan jika nenek-nenek juga tidak bisa masuk ke surga. Katanya, nenek- nenek pun harus dimandikan lebih dulu di sungai kehidupan untuk mengganti kulit.

"Nenek-nenek, maaf, gak bisa masuk surga. Rusak surga kalau ada nenek-nenek. Masuk surga dimandikan dulu di sungai kehidupan, diganti kulitnya," ujarnya.

Setelah dimandikan di sungai kehidupan, lanjut Tengku, kulit nenek-nenek berubah menjadi halus dan menyerupai gadis perawan. Sementara kulit orang hitam berubah warna jadi merah jambu.

Tengku menambahkan, kulit halus berwarna merah jambu merupakan kulit ahli surga. Hal itu, disebut Tengku, sama seperti warna kulit Nabi Adam dan Siti Hawa.

"Jadi yang keriput menjadi halus, yang hitam diganti jadi merah jambu, pink. Kulit ahli surga itu merah jambu. Kulit Nabi Adam dan Siti Hawa diciptakan di surga warna kulitnya merah jambu," ungkapnya.

"Kulit wanita di surga, kulit laki-laki di surga merah jambu. Kulitnya halus. Nenek- nenek dijadikan gadis perawan 17 tahun. Perawan selama, lama, lama, lamanya," jelas Tengku.

Ceramah Tengku Zulkarnain soal orang kulit hitam dan nenek-nenek tak bisa masuk surga itu, mendapat tanggapan dari Ketua MUI Bidang Pendidikan dan Kaderisasi KH Abdullah Jaidi.

Abdullah menyayangkan isi ceramah Tengku. Ia mengatakan, Islam tidak membedakan antara kulit putih dan kulit hitam kecuali dengan taqwanya.

"Tetapi semestinya tak usah disinggung masalah kulit hitam. Islam tidak membedakan antara kulit putih dan kulit hitam kecuali dengan taqwanya," ujar Abdullah, dikutip dari Detik.com, Rabu (14/4/2021).

"Kalau masalah kulit hitam menjadi putih atau merah itu adalah wewenang Allah SWT. Intinya menjadi menarik pandangan," jelasnya.

Sementara soal ceramah Tengku Zulkarnain yang menyebut nenek-nenek tidak bisa masuk surga, Abdullah menduga Tengku mengadopsi pernyataan Rasulullah.

"Mungkin mengadopsi pernyataan Rasulullah kepada ibu-ibu bahwa nenek-nenek tak ada di surga. Kemudian Rasulullah menggembirakan ibu nenek-nenek yang bersedih dengan Rasulullah mengatakan bahwa yang di dunia nenek-nenek akan berubah wajahnya menjadi muda dan cantik," pungkasnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli