Netral English Netral Mandarin
16:18 wib
Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) memutuskan untuk memberhentikan Arief Budiman dari jabatannya sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) atas kasus pemberhentian Komisioner KPU Evi Novida Jaksa Pinangki Sirna Malasari dituntut empat tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider enam bulan kurungan.
Wamenkumham Sebut Tolak Vaksin Bisa Dipidana, Pigai: Wamen Ini Sekolah Dimana? Jangan Ngawur

Rabu, 13-January-2021 13:55

Natalius Pigai
Foto : Twitter
Natalius Pigai
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Aktivits Kemanusiaan Natalius Pigai angkat bicara terkait pernyataan Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenkumham) Edward Hiariej. Wamenkumham sempat menyebut bahwa tindakan menolak Vaksinasi Covid– 19 bisa dipidana.

“Sy ty Wamen ini sekolah dimana? ngerti arti kekarantinaan?,” tanya Pigai, dikutip dari cuitannya, Rabu (13/1/2021).

Pigai menilai, Wamenhumkam kurang membaca Undang-undang (UU) Kesehatan, UU Tenaga Kesehatan, UU Wabah. Maka dari itu Pigai minta Wamenkumham tidak ngawur.



“Kekarantinaan itu hrs dgn National adress soal entry & exit darat, laut & udara. Lock & open wilayah. Pak Jokowi blm umum status! jgn ngawur,” tegas dia.

Sebelumnya Pigai menyuarakan agar pemerintah tidak mengancam rakyat terkait vaksinasi. Menurutnya Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus membangun gagasan sukarela dan sukarelaisme dalam pelayanan Vaksin Covid19.

Pigai tegaskan bahwa rakyat memiliki tanggung jawab moril untuk kesehatan. Menurutnya, itu cara pandang litigate government dan respek pada HAM.

“Jangan ancam RAKYAT tp Pemerintah Jokowi mesti & harus bangun Gagasan “Sukarela & Sukarelaisme” dlm pelayanan Vaksin COVID−19,” tulis dia.

Bagi Pigai, sudah menjadi hak asasi rakyat untuk menolak vaksin. Dia juga mengutip UU Kesehatan RI Nomor 36 Tahun 2009, Bab III Hak dan Kewajiban.

“Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya,” tulis bagian kesatu hak pasal 5 UU tersebut.

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani